watch sexy videos at nza-vids!
WWW.CERITAINDO.SEXTGEM.COM

Find us On Facebook and Twitter
facebook.jpg | twitter.jpg

WARUNG PLUS

Aku adalah seorang penggemar masakan. Sudah
banyak tempat yang kudatangi untuk mencicipi
masakannya. Tetapi aku justru tertarik oleh
sebuah warung yang kata teman-teman banyak
menyediakan berbagai menu, sebut saja warung
plus (WP).
Seperti biasa, malam hari sekitar jam 19:00,
sepulang kerja aku selalu mencari tempat untuk
makan (maklum bujangan), dan aku teringat oleh
kata temanku yang baru siang tadi makan di WP.
Karena jarak antara kantor dan WP agak jauh
maka aku segera buru-buru melarikan mobilku.
Sesampainya di sana aku agak bingung, karena
begitu banyak mobil dan motor yang parkir.
Tanpa pikir panjang kuparkir di tempat yang agak
jauh. Mobil yang parkir di situ rata-rata adalah
mobil luar kota, kebanyakan plat L dan W. Ketika
memasuki WP, di sana ada banyak meja yang
kosong, sempat aku berpikir, "Apakah aku salah
tempat?"
"Ndhut.." kulihat seorang teman memanggil
diriku.
Aku biasa dipanggil Gendhut oleh teman karena
perut yang agak menonjol, mungkin karena
terlalu banyak makan.
"Den, ngapain di sini?" tanyaku ke Deny, karena
kulihat di mejanya hanya ada sebotol Fanta dan
gelas.
"Lagi nunggu," sahutnya.
"Nunggu apa? Makanan?" tanyaku penasaran.
"Lagi nunggu servis," balasnya yang membuatku
penasaran.
"Servis apa? Mobil?" tanyaku semakin penasaran.
"Lha kamu mau apa?" Deny balik bertanya.
"Makan," jawabku polos.
"Wah kuno kamu, di sini ada servis selain makan
dan minum," balas Deny sambil menyeringai.
"Mas, mau pesan apa?" tanya seorang cewek
yang sempat membuatku terkejut.
"Eh.. di sini ada apa aja?" jawabku.
"Di sini ada cewek," sahut Deny seraya
mengerlipkan sebelah mata kepada cewek tadi.
"Ah.. Mas Deny ini, genit ah.. kan pelanggan baru
kalau nggak mau bagaimana?" jawab si cewek
agak manja.
"Saya pesan nasi campur dan es jeruk yang
lainnya nanti saja," jawabku sambil
memperhatikan cewek yang akhirnya kutahu
namanya adalah Mina.
Mina adalah pegawai di warung itu, selain cantik
juga mempunyai tubuh yang lumayan, tinggi;
sekitar 170 cm, kulit; putih mulus, dada; sekitar
36, pinggul; seksi (apalagi kalau berjalan). Sambil
makan dan berbincang dengan Deny, baru
kutahu kalau si Deny ini sering ke sini, makanya
dia berani menggoda Mina. Selesai makan Deny
mengajakku ke sebuah ruangan di dalam warung
itu, ruangan itu tidak terlalu lebar tapi sangat
panjang dan memiliki banyak kamar dan hanya
ada satu pintu untuk masuk dan keluar. Kulihat
Deny memasuki kamar pertama, dan ternyata di
situ adalah tempat receptionis dan seorang wanita
yang sedang menulis-nulis sebuah buku
(sepertinya buku administrasi).
"Mbak, ada yang kosong?" tanya Deny.
"Ada, ehm.. mau dua atau satu Den, atau..
masing-masing dua?" sambil melihat ke arahku.
"Masing-masing satu aja, ini temanku baru
pertama kali ke sini," kata Deny.
"Oke, mau yang mana?" tanya wanita itu sambil
memberikan foto-foto cewek lengkap dengan
nama dan umur mereka di balik foto-foto itu.
"Eh.. kamu mau yang mana?" tanya Deny
kepadaku.
Kemudian aku melihat separuh foto-foto itu
karena yang separuhnya sedang dilihat Deny. Tak
lama setelah kami bertukar foto, aku memilih
sebuah foto yang dibaliknya ada nama Putri dan
berumur 20 tahun.
"Oke, silakan tunggu di kamar 30 dan 31!" jawab
wanita itu sambil memberikan kunci kamar
nomor 30 kepadaku.
Sambil berjalan menuju kamar 30, aku sempat
mendengar suara desahan nafas yang sangat
kuhafal karena sering menonton film biru. Ketika
aku sampai di depan pintu kamar seorang cewek
cantik berusia sekitar 18 tahun menghampiriku
dan bertanya,
"Mau sama Mbak Putri ya Mas?" tanyanya.
"Iya.." jawabku sambil mengamati wajah dan
tubuh yang hanya mengenakan kaos ketat tipis
tanpa BH dan celana ketat pendek (sepertinya
celana untuk senam).
"Mas baru pertama ya ke sini?" tanyanya
menyelidik.
"Iya.. kok tahu?" sahutku.
"Iya, tahu dong kan yang masuk sini selalu saya
perhatikan dan kebanyakan hanya om-om. Oh
iya nama saya Nani. Situ siapa?" tanyanya.
"Aku Charles. Masuk yuk, di dalam kan lebih
enak!" sambil membuka pintu kamar dan
menutup setelah Nani masuk.
Setelah berbincang dengan dia baru kutahu kalau
dia anak pemilik warung yang tidak diperhatikan
oleh orangtuanya karena sibuk dengan urusan
warung, makanya dia berada di ruangan itu tanpa
sepengetahuan orangtuanya. Tak berapa lama
kemudian pintu kamar terbuka, ternyata Putri
yang kupesan tadi.
"Maaf, lama menunggu ya," kata putri.
"Udah dulu ya Mas, Mbak putri sudah datang,
silakan bersenang-senang," kata Nani.
"Lho, Nani nanti kalau ibu tahu kamu bisa
dimarahi lho," kata Putri.
"Cuek aja, yang penting bisa happy (sambil keluar
dari kamar)," kata Nani.
"Mas sudah lama nunggu ya?" tanya Nani.
"Ah enggak kok, lagian kan ada Nani," kataku.
"Saya ke kamar mandi dulu ya, Mas buka saja
dulu pakaiannya supaya lebih rileks," kata Putri.
Setelah Putri masuk kamar mandi, kubuka baju
dan celana sampai telanjang bulat. Sambil
menunggu kuperhatikan kamar itu, ternyata itu
adalah kamar Putri, di sana banyak foto Putri
sedang in action. "Wah Mas kok nafsu banget,
nggak pakai pemanasan?" tanya Putri
menyadarkanku dari lamunan. Ternyata Putri
sudah tidak memakai apa-apa kecuali handuk
yang hanya mampu menutupi dadanya yang
kalau dilihat dia berukuran 35D itu, dan daerah
liang senggamanya hanya tertutupi oleh bulu
kemaluan yang tidak terlalu lebat.
"Mas, kok ngelamun?" tanya dia lagi.
"Wah tubuhmu bagus sekali," jawabku.
Tanpa basa-basi kutarik tubuh itu dan kuciumi
bibir tipis yang membuat wajahnya menjadi
cantik. Putri tidak membalas ciuman pada menit
pertama, tapi lama kelamaan dia mulai membalas
ciumanku dengan sangat buas. "Mas rebahan di
kasur ya! biar bisa isep itu," sambil menunjuk ke
arah kemaluanku yang tak terasa sudah mulai
menegang.
Aku langsung saja tiduran dan dia membuka
handuk yang menempel tadi dan
menjatuhkannya di lantai. Ternyata aku salah
menilai susu yang besar itu, ternyata berukuran
36D. Setelah menaiki kasur dia langsung
menciumi bibirku dan perlahan mulai turun dan
akhirnya dia mengulum batang kemaluanku yang
berukuran sekitar 15 cm itu. Aku pun menikmati
permainan itu, secara perlahan dia mulai
menaikiku dan mengarahkan batang kemaluanku
yang sudah siap perang ke arah lubang
kemaluannya. "Bless.." dan, "Ah.." Putri
mendesah sambil memejamkan matanya. Agak
lama dia terdiam dan aku merasakan sesuatu
yang memijit batang kemaluanku di dalam
lubang kemaluannya. Dia mulai membuka mata
dan menaik-turunkan pinggulnya.
"Ah.. ah.. ah.. Mass.. ah.. ennaaknyaa.. ah.."
sambil terus menaik-turunkan pinggulnya.
Sampai akhirnya dia menjerit "Mass.. aku..
mauu.. keluuarr.. ah.." kurasakan ada cairan yang
menyemprot kemaluanku dengan derasnya.
Namun aku masih belum bisa menerima
perlakuan ini, aku ganti posisi sehingga aku
berada di atas dan dia membuka kakinya lebar-
lebar seakan menyambut kedatangan
kemaluanku. "Ayo Mas, puaskan Mas, basahi
memek ini Mas." Tanpa ba bi bu, aku langsung
menggenjot dia sehingga dia mengalami klimaks
yang kedua kalinya.
"Aaah.. aah.. aah.. Maass.."
"Puutt.. aku.. su.. dah.. nggak.. kuaat.. ah.."
Kuakhiri kata-kata terakhir sambil memuncratkan
spermaku ke dalam lubang kemaluannya. "Mas
ini kuat sekali ya, aku belum pernah seperti ini,"
katanya sambil lubang kemaluannya memijit
batang kemaluanku yang masih tegang di dalam.
"Aku juga Put, belum pernah merasakan yang
seperti ini (hanya alasan supaya senang)." Dan
kami melakukannya sekali lagi karena kemaluanku
masih tegang dan dipijat terus oleh lubang
kemaluannya, jadinya tidak bisa tidur walau
sudah keluar. Setelah selesai aku membersihkan
diriku di kamar mandi. Selesai mandi aku keluar
kamar dan melihat Putri tertidur, aku langsung
saja keluar kamar, eh.. ternyata Deny sudah lama
menungguku dan dia sudah membayar ongkos
service tadi. Aku pun pamit dan berterima kasih
pada Deny karena sudah malam dan besok
masih ada pekerjaan yang menunggu di kantor.
Pada hari Sabtu sore aku berjalan-jalan di sebuah
pertokoan di dekat alun-alun. Kulihat jam sudah
menunjukan pukul 18.00 dan perutku sudah
mulai lapar. Ketika mencari sebuah rumah makan
aku melihat ada seorang gadis yang duduk
sendiri membelakangiku dan tampaknya gadis itu
adalah Nani anak dari yang punya WP, dan
kusapa dia.
"Hi, Nan.." sapaku.
"Oh, Mas Charles.." kata Nani.
"Sendiri?" tanyaku.
"Nggak, sama teman," jawabnya.
"Sama pacar?" tanyaku lagi.
"Pacar? belum punya tuh," katanya.
Tak lama kemudian ada sepasang muda-mudi
yang bergandengan tangan ke arah kami.
"Mas kenalin ini teman saya Erika dan Budi," kata
Nani.
"Nama saya Charles," kataku memperkenalkan
diri.
"Saya Erika," kata Erika.
"Budi," kata Budi.
"Kok lama banget sih, kamu lagi pesan atau buat
masakan?" tanya Nani.
"Kan antri non," kata Erika.
"Char, kamu nggak pesan?" tanya Budi.
"Sudah tadi (ketika sedang berduaan)," kataku.
"Nan, kamu nanti ikut kami nggak? Berempat kan
asyik," kata Erika.
"Tanya dulu dong, masa langsung angkut. Mas
Charles ada acara nggak?" tanya Nani.
"Nggak ada," kataku.
"Mau ikut kami?" tanya Nani.
"Ke mana?" tanyaku.
"Ada deh," kata Nani.
"Boleh, lagian besok libur kantor, nganggur,"
kataku.
Sambil makan aku memperhatikan Erika yang tak
kalah cantik dibanding Nani, tingginya sekitar 160
cm, dadanya sekitar 34, kulitnya coklat,
pinggulnya agak kecil (lumayan). Setelah makan
kami menuju ke areal parkir. Karena masing-
masing bawa mobil (aku dan Budi) maka aku satu
mobil sama Nani karena dia yang tahu mau ke
mana. Saat di dalam mobil dia banyak cerita
tentang temannya yang akhirnya kutahu kalau
mereka itu sedang berpacaran dan sudah
bertunangan. Ketika akan melewati sebuah hotel
Nani menyuruhku untuk masuk ke dalam hotel
itu.
"Mau nginap?" tanyaku.
"Ya ke sini ini tujuan kita," kata Nani.
Sambil mencari tempat parkir aku berpikir kalau
aku sedang mendapat kejutan akan berkencan
dengan seorang gadis yang cantik dan gratis
karena dia yang mengajak. Setelah menemukan
tempat yang aman dari teman sekantor, kami
masuk ke dalam dan teman Nani sudah
memesan sebuah kamar VIP. Kami pun berjalan
mengikuti belboy yang menunjukkan di mana
kamar kami. Sesampainya di kamar, Budi
memberi tip kepada belboy dan menutup pintu
kamar. Kamar yang unik menurutku (karena
belum pernah masuk), ada dua kasur besar di
dalam dua ruangan tanpa pintu yang
berseberangan, sebuah ruang tamu lengkap
dengan TV, kulkas, AC dan sebuah meja kecil
dengan telepon. Kami berempat duduk
berpasangan di ruang tamu, aku dengan Nani
dan Budi dengan Erika. Tanpa menunggu aba-aba
Budi langsung menciumi Erika, dan kurasakan
tangan Nani mulai membelai pahaku. Aku pun
langsung memeluk Nani dan menciumi bibir
sensualnya. Nani pun membalas ciuman itu
dengan buas dan liar bagai singa sedang
memakan mangsanya. Kemudian Erika bertanya,
"Nan, kamu kamar yang mana?"
"Terserah deh, pokoknya ada kasurnya," kata
Nani.
"Aku masuk dulu ya," kata Erika.
"Aku juga ah.. nggak enak di sini," kata Nani.
Sambil menarikku ke dalam kamar dan
membaringkan aku dengan sedikit mendorong.
"Mas, aku akan servis kamu lebih dari yang
pernah kamu alami," kata Nani.
"Boleh aja, asal bisa tahan lama," kataku.
Nani membuka pakaiannya sambil melenggak-
lenggokkan pinggul layaknya seorang penari
striptease. Setelah pakaiannya habis dia
berjongkok sambil menciumi batang kemaluanku
yang sudah tegak di dalam celana. Sambil
menciumi dia membuka celana dan aku
membuka baju sampai telanjang bulat. Dia
langsung menciumi dan menjilati kemaluanku
yang sudah tegak berdiri dengan gagahnya.
"Mas besar sekali?" tanya Nani.
"Tapi enakkan.." kataku.
"Iya.." katanya.
Kemudian kutarik tubuhnya sehingga aku dapat
menciumi lubang kemaluannya dan dia tetap
dapat mengulum kemaluanku.
"Mas.. lidahnya.. nakal.. auw.. ah.." katanya
sambil mendesah.
"Kamu juga pintar mainin lidah," kataku.
"Mas.. masukin.. aja.. ya.. aku.. pingin.. ini.." kata
Nani.
Sambil memutar tubuhnya, sayub-sayub aku
mendengar jeritan nikmat dari kamar seberang.
"Ah.. Mas.. nikmat.. Mas.. ah.." katanya ketika
batang kemaluanku masuk dan sambil menaik-
turunkan pinggulnya aku merasakan batang
kemaluanku mendapat hisapan yang sangat kuat.
"Mas.. oh.. ah.. Mas.. enak.. ah.." desah Nani.
"Ka.. muu.. juga.." selang agak lama dia mulai
mempercepat genjotannya dan akhirnya dia
orgasme.
"Ah.. Mas.. ah.. enak.."
Aku tahu dia sudah lemas, maka aku
membalikkan tubuhnya sambil batang
kemaluanku tetap di dalam dan mulai
menggenjot tubuhnya.
"Oh.. Mas.. yang keras.. Mas.. ah.." dia berkata
sambil mengangkat kedua kakinya sehingga aku
dapat menciumi betisnya.
Tak berapa lama, "Mas.. aku.. mau kegh.. luar..
ah.. Mas.. nggak.. kuat.." teriaknya.
"Ta.. han.. sebentar ya.. aku.. juga.. hmmff," aku
mempercepat gerakan dan akhirnya..
"Mas.. ah.. aku.. keluar.. Mas.. aagh.. hmmff..
hmmff.."
"Ah.. ah.. oh.."
Kami mengeluarkan secara bersamaan dan aku
mencium keningnya dan dia pun membalas
mencium dadaku sambil sedikit menggenjot
secara halus untuk mengeluarkan sisa sperma
yang belum keluar. "Plok, plok, wah hebat bener
sampai Nani harus dua kali keluar," kata Erika
yang sedang memperhatikan kami, ternyata dia
dan Budi sudah lama menonton pertandingan
kami dan kami tidak menyadarinya.
Setelah membersihkan diri kami berkumpul di
ruang tamu sambil berbincang tanpa sehelai
benang yang menempel.
"Gimana Nan enak?" tanya Erika.
"Luar biasa Er, aku belum pernah seperti ini," kata
Erika.
"Kalau sama aku?" tanya Budi.
"Kamu sih nggak ada apa-apanya sama dia?" kata
Nani sambil menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Masa?" tanya Budi.
"Iya, punya dia kan lebih besar dan lebih lama,"
kata Nani.
"Kalau lama aku mungkin bisa kan biasanya
melayani kalian berdua jadinya capek kan," kata
Budi.
"Gimana kalau nanti kita tukar, aku sama Charles
dan kamu (Nani) sama Budi," kata Erika.
"Wah rugi aku dapat Budi," kata Nani.
"Menghina ya," kata Budi.
"Nggak pa-pa Nan, aku kan juga pingin
ngerasain," kata Erika.
"Kamu mau nggak Mas?" tanya Nani kepadaku.
"Boleh, tapi biasanya yang kedua lebih lama,"
kataku.
"Waduh, rugi dua kali nih," kata Nani.
"Kamu kan kapan-kapan bisa berduaan lagi, kalau
aku kan mau menikah," kata Erika.
"Iya deh," kata Nani.
Setelah itu Erika dan Nani bertukar tempat dan
sekarang Erika berada dalam pelukanku
sedangkan Nani bersama Budi. Selang agak lama
berbincang-bincang Erika mulai meraba-raba
dadaku dan memberikan ciuman kecil pada
pentilku. Aku pun membalas dengan membelai
lembut buah dada yang tampak menggairahkan
itu. Tak lama kemudian Budi menggendong Nani
dan membawanya memasuki kamar tempat
Erika dan Budi bermain pada mulanya.
Sedangkan Erika semakin buas dan segera
mengulum batang kejantananku yang masih
tidur dengan nyenyaknya. Aku pun menikmati
perlakuan yang diberikan Erika kepada batang
kejantanan yang sekarang setengah tiang itu.
Tampaknya Erika sangat ahli dalam hal
mengulum, buktinya tidak lama kemudian adik
kesayanganku itu terbangun dalam keadaan siap
tempur. Aku menjadi tidak sabar dengan keadaan
itu maka dengan nafsu yang besar kugendong
tubuh Erika menuju ke kamar yang satunya lagi.
Di dalam kamar langsung kulempar tubuh itu ke
atas kasur dan aku pun mulai menciumi daerah
liang senggama Erika yang sudah terlihat sangat
merangsang. "Emh.. emh.. ahh.." tampaknya
Erika mulai merasakan rangsangan yang aku
berikan. "Mas.. aku.. pingin.. Mas.. ah.." setelah
berkata, dia langsung membalikkan badannya
dan sekarang posisi kami saling berhadapan
dengan dia di atas dan aku di bawah. Dia mulai
mengarahkan batang kemaluanku ke arah
kemaluannya dan.. "Ahh.." amblaslah batang
kemaluan yang lumayan besar itu. Tanganku pun
tak mau tinggal diam, meremas-remas buah
dada yang sedang mengayun-ayun di atas
dadaku. "Emh.. ah.." dia pun mulai memainkan
pantatnya. Tak berapa lama dia mengejang dan
menurunkan pantatnya sampai batang
kemaluanku amblas tak terlihat, rupanya dia
sudah orgasme, tapi dia tidak seperti habis
orgasme tetap menaik-turunkan pantatnya malah
semakin cepat. Aku pun merasa nikmat dan
dalam waktu singkat aku pun orgasme. Kami pun
tertidur kecapaian sambil kemaluanku tetap di
dalam liang senggamanya dan kepalanya berada
di dadaku. Keesokan harinya kami pulang ke
rumah masing-masing, dan sejak kejadian itu aku
tidak pernah bertemu dengan Erika lagi, begitu
juga Nani, entah kemana mereka, seolah hilang
ditelan bumi. Maka aku pun hanya bisa
membayangkan tidur bersama mereka berdua.
Dan aku semakin sering datang ke warung
barangkali bisa bertemu Nani, kalaupun tidak
bertemu masih ada keistimewaan dari warung
itu, makan sambil ngeseks.


Adult | GO HOME | Exit
1/1460
U-ON

inc Powered by Xtgem.com